Peralihan fungsi lahan, kebakaran hutan, pencemaran sungai dan mata air, serta perubahan iklim menjadi persoalan lingkungan yang turut mengancam keberlangsungan kehidupan dan kebudayaan masyarakat. Melalui perspektif cultural ecology yang dikembangkan Julian H. Steward, hubungan manusia, lingkungan, dan kebudayaan dapat ditelusuri melalui cara masyarakat memanfaatkan serta beradaptasi dengan lingkungannya. Di Yogyakarta, relasi tersebut tercermin dalam keberagaman bentang alam, mulai dari gunung, hutan, sungai, dataran rendah, karst, hingga laut dan pesisir yang membentuk penghidupan, pengetahuan lokal, serta praktik kebudayaan masyarakat.
Pengetahuan dan pengalaman tersebut merupakan bagian dari rekaman kehidupan masyarakat. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, arsip merupakan rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media. Melalui pameran arsip “Lestari: Membaca Relasi Budaya dan Bentang Alam Yogyakarta”, arsip menjadi media untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan praktik kebudayaan sekaligus memperlihatkan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi. Kelestarian dimaknai bukan sekadar mempertahankan kebudayaan, melainkan juga merawat hubungan manusia dengan alam yang membentuknya, karena keberlangsungan kebudayaan tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan.













































